rkholil:

Saya selalu lemas tiap melihat foto ini.. DEMI ALLAH apa salah bapak ini (namanya Pak Nainggolan atau Pak Simbolon, lupa, yang jelas salahsatu pedagang Pocin)..

Pak Nainggolan yang beberapa hari yang lalu, mengawali rapat teklap (teknis lapangan) untuk aksi menolak penggusuran di Stasiun Pondok Cina, dengan mengaku di depan kami bahwa dia dan teman-temannya buta hukum, tapi ingin terus berjuang mempertahankan haknya, oleh karena itu memohon kepada mahasiswa untuk terus dibimbing dan didampingi.

Pak Nainggolan yang berjualan buku di sekitar kampus, yang andai kita bisa lihat catatan di para malaikat, entah sudah berapa banyak mahasiswa/i yang terbantu karena jasa dagangannya. Sudah berapa banyak dari mereka yg terbantu membuat tugas, membuat makalah, membuat PKM, membuat skripsi, membuat penelitian, lulus kuliah, membuat social project, menginspirasi orang lain dengan tulisan, (dan daftarnya akan terus bertambah).. Hingga who knows, mereka yg terbantu dan sekarang menjadi tokoh-tokoh besar baik itu pemimpin di dunia kemahasiswaan, wakil rakyat, pebisnis, aktivis sosial, dan lain-lain.

Pak Nainggolan yang untuk berjualan buku menafkahi keluarganya tersebut harus membeli kios dan membayar sewa kepada oknum PT KAI bernama Pak IJ Wahidin, dan menandatangani kontrak yang ternyata isinya menyudutkan posisinya sendiri secara hukum (tentunya sama sekali tanpa paham konsekuensinya).

Pak Nainggolan yang mau bergabung berjuang bersama dengan ratusan pedagang lain dari stasiun-stasiun lain untuk mempertahankan haknya, menegakkan HAM dan Konstitusi negaranya, melawan kesemena-menaan.

Pak Nainggolan yang mau berlelah-lelah menyusuri jalan perjuangan, bolak-balik aksi, audiensi, tiap malam ronda di kios, dengan cemas dan harap. Tanpa keuntungan langsung. Hanya sebuah mimpi indah tentang hasil manis dari sebuah perjalanan juang yang panjang dan berat.

Pak Nainggolan yang berani mempertaruhkan penghidupannya dengan tidak memindahkan barang jualannya, bahkan tetap terus buka kios dan berjualan seperti biasa, hanya karena satu hal: optimisme terhadap hasil dari perjuangan.

Pak Nainggolan yang kalangkabut panik saat sedang aksi meminta perhatian Bapak Presiden, di istana, mendapat kabar dari istrinya di kios bahwa kios buku mereka tiba-tiba diserang segerombolan preman berperawakan indonesia timur, membawa linggis dan balok, membabi-buta mengganyang rak-rak buku mereka. Padahal jualan mereka adalah buku, yang kena air atau kotor sedikit saja langsung turun harga jualnya.

Pak Nainggolan yang berusaha mempertahankan penghidupan keluarganya tersebut dengan langsung pasang badan walau dengan tangan kosong, di depan preman-preman yg ganas dan bersenjata. Saya membayangi apa yang ada di pikirannya saat itu. Mungkin anak kecilnya di rumah yang sedang dititipkan ke salahseorang kerabat, yang menyambut dengan senyuman dan tawa saat dia pulang ke rumah, lelah sehabis seharian berjualan. Mungkin masa depan anaknya, sosok anaknya berseragam merah putih menenteng tas sekolahan. Atau sosok anaknya bertoga lengkap memegang gulungan sertifikat kelulusan, dengan senyum sumringah memeluk dan berterima kasih kepadanya. Mungkin, ah, terlalu banyak mungkin, dan tentunya saya tidak bisa benar-benar mendapatkan bayangannya. Yang jelas pasti saat itu Pak Nainggolan pikirannya semrawut. Bingung, marah, kecewa, lemas, dan lain-lain.

Pak Nainggolan yang dihantam, lalu lari, lalu dikejar. Oleh preman. Apa masalah dia dengan preman itu? Tidak ada. Keduanya orang kecil yang diadu. Mereka punya persamaan: sama-sama ingin cari makan..

Saya belum ke kios Pocin lagi. Belum tau bagaimana sekarang kondisi kios-kios, dan bagaimana perasaan Pak Simbolon, Pak Nainggolan, Pak Rinsan, Bu Mariana, anaknya yang masih kecil dan selalu dibawa-bawa ikut berjuang itu, dan pedagang Pocin lainnya..

Sungguh mereka punya optimisme yang tinggi. Dari mereka saya belajar bagaimana itu yg orang bilang “bakar kapal”.

Semoga keadilan segera menghampiri mereka.. Tidak dari negeri ini, tidak dari hukum di negeri ini, tidak dari penegak hukum di negeri ini. Tapi dari tangan-tangan yang nuraninya masih menyala, yang hatinya masih mudah disentuh, yang otaknya masih bersih. Untuk menolong, membela, dan memberdayakan sesama manusia ini..

Mereka manusia juga, bukan?

Ah, entah bagaimana Ignasius Jonan dan para pengambil kebijakan yang lain, memaknai keberadaan mereka para pedagang ini.

Semoga berkah keadilan segera menghampiri mereka, yang telah berani dan serius berjuang, dan memercikkan setitik api harapan akan perubahan di negeri ini, dalam hati-hati mereka..

(via sitaelanda)

196 notes | Posted Jan 18, 13

MASGUN: Cerpen : Diam Diam Peduli

kurniawangunadi:

Aku tidak harus menunjukkan kepedulianku terhadapmu pada semua orang , bukan ?

Seperti seorang ayah yang sejak dahulu lebih banyak diam, jarang menanyakan kabar tapi sibuk kesana kemari mencarikanmu kehidupan. Seperti seorang pecinta yang begitu bersemangat mendoakan kekasihnya agar…

349 notes | Posted Jan 16, 13

My Output: Wow, ternyata berat yaaa tanggung jawab Suami

mefanny:

Saat akad nikah : “Saya terima nikah dan kawinnya si Fulana binti Ayah Fulana dgn mas kawin…….,” singkat, padat, dan jelas.

Tapi tahukah makna dalam “perjanjian/­ikrar” tersebut?
 » “Maka aku tanggung dosa-dosanya si Fulana dari orang tuanya, dosa apa saja yg telah dia lakukan…

(Source: , via fildzahamalya)

126 notes | Posted Jan 15, 13

islamographic:

KNOW YOUR MAHRAMS by Syarifah Adibah Syed Mohd

islamographic:

KNOW YOUR MAHRAMS by Syarifah Adibah Syed Mohd

(via tersenyum-melihat-langit)

883 notes | Posted Jan 13, 13

Karena Istikhoroh adalah caraku mengalahkan rasa rindu ini. Dan Hajat kupilih sebagai cara meminta dirimu untuk mendampingiku bersama ke surga-Nya.

Posted Jan 2, 13

"Alloh ga mungkin salah mempertemukan aku denganmu"

-Bukan galau, ini konteksanya bisa ke siapa aja, teman, sahabat, dsb.

Posted Jan 1, 13

"Beranjak itu sederhana, sesederhana keyakinan kita akan takdirNya."
Sita (via sitaelanda)

5 notes | Posted Dec 28, 12

(Source: anginawan, via bigzaman)

378 notes | Posted Dec 24, 12

"Ketika sudah menikah, mungkin kelihatannya kerjaan akhwat lebih banyak, terpaksa masak untuk suami, cucian jadi dobel, setrikaan jadi dobel, padahal sebenarnya tidak. Karena seorang ikhwan sejak akad, ia BERKEWAJIBAN PENUH untuk menjaga istrinya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki hingga sepanjang hidupnya.."
nasihat seorang sahabat akhwat (via bigzaman)

90 notes | Posted Dec 24, 12

"semua bunga akan mekar, tapi tak semua bunga itu akan harum ; semua cinta itu indah, tapi tak semua yang indah itu bahagia. kerana bahagia itu bukan pada keindahan, sebaliknya pada yang sudah halal :)"

117 notes | Posted Dec 23, 12